Sejarah pendidikan di Gayo Lues mencerminkan perjalanan panjang dari sistem tradisional berbasis agama hingga modernisasi pendidikan tinggi. Berikut adalah rangkuman sejarah pendidikan di wilayah berjuluk "Negeri 1000 Hafiz" tersebut:
1. Masa Tradisional (Sebelum Abad ke-20)
Sebelum masuknya pengaruh kolonial, pendidikan di Gayo Lues berpusat pada lembaga keagamaan tradisional:
Meunasah dan Dayah: Menjadi institusi utama tempat masyarakat belajar membaca Al-Qur'an, ilmu tauhid, dan ibadah.
Kekeberen: Pendidikan informal melalui penuturan legenda dan nilai-nilai adat oleh orang tua kepada generasi muda untuk membentuk karakter dan pengetahuan lokal.
2. Masa Kolonial Belanda (1904 – 1942)
Setelah Belanda menguasai Gayo Lues pada tahun 1904, sistem pendidikan formal mulai diperkenalkan:
Volkschool (Sekolah Rakyat): Belanda mendirikan Sekolah Desa (3 tahun) di pusat-pusat pemerintahan seperti Blangkejeren. Tujuannya adalah untuk mencetak tenaga administrasi rendah.
Perguruan Islam Menengah (PIM): Salah satu tonggak pendidikan Islam modern di Gayo Lues adalah berdirinya PIM yang dipelopori oleh tokoh lokal bernama Sabaruddin Aman Manis.
Masuknya Muhammadiyah: Pada akhir 1930-an (sekitar tahun 1937), organisasi Muhammadiyah mulai masuk ke Gayo Lues dan kemudian mengambil alih pengelolaan PIM untuk memperluas akses pendidikan berbasis Islam modern.
3. Masa Pendudukan Jepang (1942 – 1945)
Pendidikan di masa ini mengalami perubahan orientasi:
Kokumin Gakko: Sekolah-sekolah Belanda diubah menjadi Sekolah Rakyat 6 tahun. Kurikulum difokuskan pada kepentingan perang dan pelatihan fisik (militer).
Tokoh Terdidik: Banyak pemuda Gayo Lues hasil didikan militer Jepang (seperti Bahrin, Zakaria, dan Maat) yang kelak berperan dalam mempertahankan kemerdekaan saat Agresi Militer Belanda.
4. Masa Kemerdekaan dan Orde Baru
Pasca-kemerdekaan, Gayo Lues masih menjadi bagian dari Kabupaten Aceh Tengah, namun pembangunan sekolah formal terus berkembang:
Sekolah Menengah Atas Pertama: SMA Negeri 1 Blangkejeren merupakan SMA tertua di Gayo Lues, didirikan secara resmi pada 13 Juli 1981. Sebelum sekolah ini ada, pelajar Gayo Lues harus pergi ke Takengon atau Medan untuk melanjutkan pendidikan menengah.
Dayah Terpadu: Pada tahun 1990-an, mulai muncul dayah dengan sistem modern (terpadu), seperti Dayah Darul Mukhlisin di Burnijimet (1990).
5. Era Otonomi Daerah (2002 – Sekarang)
Pemisahan Gayo Lues menjadi kabupaten sendiri pada tahun 2002 memicu akselerasi pendidikan:
Pemerataan Sekolah: Pembangunan SD, SMP, dan SMA diperluas hingga ke kecamatan-kecamatan terpencil.
Pendidikan Tinggi: Sejarah baru tercipta dengan hadirnya PSDKU Universitas Syiah Kuala (USK) di Gayo Lues (sekarang menjadi kampus mandiri USK Gayo Lues) yang menawarkan berbagai program studi seperti Kehutanan, Agroteknologi, dan Pendidikan Biologi.
Negeri 1000 Hafiz: Pemerintah daerah meluncurkan program unggulan untuk mencetak ribuan penghafal Al-Qur'an melalui dukungan bagi pondok pesantren dan dayah di seluruh wilayah, mempertegas identitas Gayo Lues sebagai pusat pendidikan religius di Aceh.
Sejarah ini menunjukkan bahwa Gayo Lues berhasil mempertahankan nilai-nilai religius tradisionalnya sembari beradaptasi dengan sistem pendidikan modern demi kemajuan sumber daya manusia di dataran tinggi tersebut.
.png)

.jpg)