Minyak sere wangi (Cymbopogon nardus) bukan sekadar komoditas bagi masyarakat Gayo Lues; ia adalah "Emas Hijau" yang telah membentuk peradaban, pola kerja, hingga identitas sosial masyarakat di dataran tinggi tersebut. Jika kopi adalah napas di Gayo Lues, maka sere wangi adalah denyut nadinya.
Berikut adalah gambaran mendalam mengenai peradaban minyak sere di Gayo Lues:
1. Sejarah dan Akar Tradisi
Tanaman sere wangi telah tumbuh di lereng-lereng perbukitan Gayo Lues selama puluhan tahun. Tradisi menyuling sere wangi dimulai secara masif sejak era 1970-an dan mencapai puncaknya sebagai penopang ekonomi utama ketika harga komoditas lain sedang turun. Bagi masyarakat Gayo, menanam sere adalah investasi masa depan karena tanamannya yang relatif tahan banting di lahan miring.
2. Lanskap Geografis: "Kabupaten Sere Wangi"
Gayo Lues merupakan penghasil minyak sere wangi terbesar di Indonesia, bahkan menyumbang porsi signifikan bagi kebutuhan dunia. Hamparan tanaman sere menyelimuti hampir seluruh perbukitan yang mengelilingi kabupaten ini. Berbeda dengan daerah lain, sere wangi Gayo Lues dikenal memiliki kadar Sitronelal yang sangat tinggi karena faktor ketinggian tanah dan iklim pegunungan yang unik.
3. Arsitektur Tradisional: Ketel Penyulingan
Peradaban sere wangi dapat dilihat dari banyaknya pondok-pondok penyulingan yang tersebar di pi
Tidak ada komentar:
Posting Komentar